DOUBLE BURDEN SEBAGAI FAKTOR PEMICU DOMESTIC BURNOUT PADA ISTRI PERSPEKTIF GENDER (Studi Kasus Di Desa Tiudan Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung)

RIZKA CHOIRUN ANNISA FATAUDIN, 1860102222133 and MUHAMAD ARIFIN, 198201272023211005 (2026) DOUBLE BURDEN SEBAGAI FAKTOR PEMICU DOMESTIC BURNOUT PADA ISTRI PERSPEKTIF GENDER (Studi Kasus Di Desa Tiudan Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung). [ Skripsi ]

[img] Text
COVER.pdf

Download (390kB)
[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (307kB)
[img] Text
DAFTAR ISI.pdf

Download (151kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (376kB)
[img] Text
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (510kB)
[img] Text
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (54kB)
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (252kB)
[img] Text
BAB V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (246kB)
[img] Text
BAB VI.pdf
Restricted to Registered users only

Download (28kB)
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (234kB)
[img] Text
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Skripsi dengan judul Double Burden sebagai Faktor Pemicu Domestic Burnout pada Istri Perspektif Gender (Studi Kasus di Desa Tiudan Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung) ditulis oleh Rizka Choirun Annisa Fataudin, NIM 1860102222133, dengan pembimbing Dr. Muhamad Arifin, M.H.I. Kata Kunci: Double Burden, Domestic Burnout, Istri, Gender, Ketidakadilan Gender. Meningkatnya keterlibatan perempuan dalam membantu perekonomian keluarga tidak selalu diiringi dengan pembagian peran rumah tangga yang seimbang. Kondisi tersebut menyebabkan banyak istri menjalankan peran domestik dan publik secara bersamaan yang dikenal sebagai double burden (beban ganda). Ketimpangan pembagian peran tersebut berpotensi menimbulkan domestic burnout, yaitu kondisi kelelahan fisik, emosional, dan psikologis akibat tuntutan rumah tangga yang berlangsung secara terus-menerus. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena yang ditemukan di Desa Tiudan Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung, di mana sebagian istri tidak hanya bertanggung jawab terhadap pekerjaan domestik, tetapi juga turut berperan dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah sebagai berikut: (1) bagaimana bentuk dan penyebab terjadinya double burden yang dialami istri di Desa Tiudan Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung?; dan (2) bagaimana pengaruh double burden terhadap munculnya domestic burnout pada istri dalam perspektif gender?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan (field research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data didapatkan dari wawancara, observasi, serta dokumentasi. Informan utama terdiri atas 9 (sembilan) orang istri yang mengalami double burden dan menunjukkan gejala domestic burnout, sedangkan informan tokoh masyarakat, dan perangkat desa. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data dari model Miles dan Huberman yang dimana terdiri dari kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta penelitian ini diuji kembali keabsahan datanya menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, pertama, bentuk double burden yang dialami istri di Desa Tiudan Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung meliputi peran domestik sebagai pengelola rumah tangga, peran publik sebagai kontributor ekonomi keluarga, peran pengasuhan anak yang tetap dibebankan kepada istri, serta keterlibatan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Kondisi tersebut diperkuat oleh ketimpangan pembagian peran dalam rumah tangga, tuntutan ekonomi keluarga, rendahnya keterlibatan suami dalam pekerjaan domestik, dan budaya patriarki yang masih menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama urusan rumah tangga. Kedua, double burden berpengaruh terhadap munculnya domestic burnout pada istri yang ditandai dengan kelelahan fisik akibat akumulasi peran domestik dan publik, kelelahan emosional, stres, kejenuhan, berkurangnya waktu untuk diri sendiri, serta tekanan psikologis yang berlangsung secara terus-menerus. Kurangnya dukungan suami dan kuatnya budaya patriarki semakin memperbesar risiko terjadinya domestic burnout. Dalam perspektif gender, fenomena tersebut menunjukkan adanya ketidakadilan gender berupa subordinasi perempuan dan ketimpangan pembagian peran antara suami dan istri, sehingga perempuan memikul beban dan tanggung jawab yang lebih besar dalam kehidupan rumah tangga.

Item Type: Skripsi
Subjects: Hukum > Hukum Keluarga Islam
Divisions: Fakultas Syariah Dan Ilmu Hukum > Hukum Keluarga Islam
Depositing User: 1860102222133 RIZKA CHOIRUN ANNISA FATAUDIN
Date Deposited: 27 Jul 2026 02:54
Last Modified: 27 Jul 2026 02:54
URI: http://repo.uinsatu.ac.id/id/eprint/69914

Actions (login required)

View Item View Item