Zunita Lut Fiana Pangesti, 1880503230014 and SALAMAH NOORHIDAYATI, 197401241999032002 and TEGUH, 197003102001121002 (2025) KONSEP KHĀTAM AL-NABIYYĪN DALAM TAFSIR AHMADIYAH QADIAN DAN AHMADIYAH LAHORE (Kajian Epistemologi Tafsir Kontemporer). [ Thesis ]
|
Text
COVER.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
ABSTRAK.pdf Download (316kB) |
|
|
Text
DAFTAR ISI.pdf Download (192kB) |
|
|
Text
BAB I.pdf Download (401kB) |
|
|
Text
BAB II.pdf Restricted to Registered users only Download (608kB) |
|
|
Text
BAB III.pdf Restricted to Registered users only Download (368kB) |
|
|
Text
BAB IV.pdf Restricted to Registered users only Download (584kB) |
|
|
Text
BAB V.pdf Restricted to Registered users only Download (652kB) |
|
|
Text
BAB VI.pdf Restricted to Registered users only Download (224kB) |
|
|
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (223kB) |
|
|
Text
LAMPIRAN.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perbedaan penafsiran terhadap ayat khātam al-nabiyyīn dalam tafsir Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore. Tafsir Ahmadiyah Qadian mengemukakan empat kemungkinan makna atas frasa tersebut: (1) Nabi Muhammad sebagai segel kenabian, (2) sebagai nabi paling mulia, (3) sebagai nabi terakhir pembawa syariat, dan (4) sebagai nabi terakhir dari sisi kualitas, bukan secara urutan kenabian. Penafsiran ini menjelaskan terbukanya kemungkinan munculnya nabi setelah Muhammad selama tidak membawa syariat baru dan termasuk dalam umatnya. Sebaliknya, tafsir Ahmadiyah Lahore menegaskan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir secara mutlak, sementara individu yang menerima ilham ilahiah pasca Muhammad tidak disebut nabi, melainkan muḥaddaṡ. Rumusan masalah penelitian ini adalah: (1) Apa sumber penafsiran Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore untuk menafsirkan ayat khātam al-nabiyyīn, (2) Bagaiman metode penafsiran Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore dalam menafsirkan ayat khātam al-nabiyyīn, dan (3) Bagaimana validitas penafsiran ayat khātam al-nabiyyīn dalam tafsir Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membandingkan epistemologi penafsiran Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore dengan menelaah sumber, metode, serta validitasnya dalam menafsirkan ayat khātam al-nabiyyīn. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (library research) dengan sumber utama berupa kitab tafsir Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore dan fokus pada tema khātam al-nabiyyīn yang didasarkan pada Q.S. al-Aḥzāb [33]: 40. Data dianalisis menggunakan metode analisis-komparatif. Tiga teori kebenaran dari ilmu filsafat digunakan untuk mengukur validitas penafsiran, yakni teori koherensi, teori korespondensi, dan teori pragmatisme. Analisis data dilakukan menggunakan kerangka epistemologi tafsir kontemporer oleh Abdul Mustaqim. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, sumber penafsiran dalam tafsir Ahmadiyah Qadian yang digunakan dalam Q.S. al-Aḥzāb [33]: 40 meliputi al-Qur’an, hadis, akal (ijtihad), kitab-kitab tafsir klasik, kamus, serta kitab-kitab tasawuf dan akidah. Adapun sumber tafsir Ahmadiyah Lahore terdiri atas hadis, kamus, dan akal. Keduanya memadukan pendekatan bi al-ma’ṡūr dan bi al-ra’yi. Kedua, metode yang digunakan adalah metode taḥlīlī dengan corak linguistik (lugawī) dan teologis (i’tiqādī). Ketiga, validitas penafsiran terhadap ayat khātam al-nabiyyīn setelah diuji dengan tiga teori kebenaran maka diperoleh hasil sebagai berikut: (1) Menurut teori koherensi, penafsiran Ahmadiyah Qadian dianggap tidak benar karena terbukti tidak konsisten karena makna kata khātama dalam Q.S. al-Aḥzāb [33]: 40 justru bertentangan dengan penggunaan makna kata khatama beserta derivasinya dalam ayat ayat lain di dalam tafsir tersebut. Sementara itu, tafsir Ahmadiyah Lahore dianggap benar karena mempertahankan kesinambungan semantik dan keseragaman struktur penafsiran. (2) Dalam kerangka korespondensi, penafsiran Ahmadiyah Qadian dianggap benar karena terdapat kesesuaian antara makna khātam al-nabiyyīn yang mereka yakini dengan realitas empiris komunitas mereka yang mengakui munculnya nabi setelah Muhammad dengan syarat-syarat tertentu. Penafsiran Ahmadiyah Lahore juga dianggap benar dalam teori korespondensi karena penafsiran atas khātam al-nabiyyīn selaras dengan praktik komunitas mereka yang tidak mengangkat nabi baru, tetapi tetap membuka ruang bagi pengalaman ilahiah seperti ilham dan karamah. (3) Menurut teori pragmatisme, tafsir Ahmadiyah Qadian tidak memenuhi tolok ukur manfaat praktis karena memicu kontroversi dan menimbulkan resistensi sosial, sedangkan tafsir Ahmadiyah Lahore terbukti lebih moderat dan harmonis, mendukung stabilitas internal umat Islam, dan diterima lebih luas dalam dunia Muslim.
| Item Type: | Thesis (UNSPECIFIED) |
|---|---|
| Subjects: | Agama Agama > Al Quran Agama > Aliran Kepercayaan Agama > Tafsir Quran |
| Divisions: | Pascasarjana > Thesis > Ilmu Al-Quran Dan Tafsir |
| Depositing User: | 1880503230014 ZUNITA LUT FIANA PANGESTI |
| Date Deposited: | 24 Sep 2026 03:03 |
| Last Modified: | 24 Sep 2026 03:03 |
| URI: | http://repo.uinsatu.ac.id/id/eprint/72578 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
