UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung INSTITUTIONAL REPOSITORY UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

ANALISIS PERSEPSI MAHASISWA HUKUM KELUARGA ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG TERHADAP FENOMENA CHILDFREE DALAM PERNIKAHAN PRESPEKTIF MAQASHID SYARIAH

DYAH AYU PRAMESTIE, 1860102221084 and ASHIMA FAIDATI, 198903172019032015 (2026) ANALISIS PERSEPSI MAHASISWA HUKUM KELUARGA ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SAYYID ALI RAHMATULLAH TULUNGAGUNG TERHADAP FENOMENA CHILDFREE DALAM PERNIKAHAN PRESPEKTIF MAQASHID SYARIAH. [ Skripsi ]

[img] Text
COVER.pdf

Download (1MB)
[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (432kB)
[img] Text
DAFTAR ISI.pdf

Download (283kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (418kB)
[img] Text
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (459kB)
[img] Text
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (353kB)
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (414kB)
[img] Text
BAB V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (423kB)
[img] Text
BAB VI.pdf
Restricted to Registered users only

Download (294kB)
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (274kB)
[img] Text
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (2MB)

Abstract

Dyah Ayu Pramestie. NIM. 1860102221084. Analisis Persepsi Mahasiswa Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung terhadap Fenomena Childfree dalam Pernikahan Perspektif Maqashid Syariah. Skripsi. Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Pembimbing: Ashima Faidati, S.H.I., M.Sy. 2026. Kata Kunci: Childfree, Hukum Keluarga Islam, Maqashid Syariah, Persepsi Mahasiswa. Fenomena childfree yang merupakan keputusan sadar dari pasangan suami istri untuk tidak memiliki anak sepanjang pernikahannya semakin berkembang di Indonesia seiring dengan pengaruh media sosial dan gaya hidup modern. Istilah childfree berbeda dengan childless yang merujuk pada kondisi sesorang atau pasangan untuk tidak memiliki anak bukan karena pilihan melainkan karena keadaan atau factor diluar kehendak mereka. Sebagian masyarakat memandang childfree sebagai hak pribadi, namun di sisi lain Islam menempatkan menjaga keturunan (hifz al-nasl) sebagai salah satu tujuan pokok syariat. Ketegangan antara nilai normatif Islam dan realitas sosial modern ini mendorong perlunya kajian mendalam mengenai bagaimana mahasiswa Hukum Keluarga Islam memaknai fenomena tersebut. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah: (1) Bagaimana persepsi mahasiswa Hukum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung terhadap fenomena childfree dalam pernikahan? (2) Bagaimana analisis persepsi mahasiswa Hulum Keluarga Islam Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung terhadap fenomena childfree dalam pernikahan perspektif maqashid syariah? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian yuridis empiris. Lokasi penelitian adalah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Sumber data primer diperoleh dari 10 mahasiswa aktif Program Studi Hukum Keluarga Islam. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap fenomena childfree terbagi menjadi tiga kecenderungan: (1) menerima childfree sebagai hak individu yang harus dihormati; (2) bersikap moderat dengan menerima childfree sebagai pilihan pribadi namun tetap menilai kurang sesuai dengan anjuran Islam; dan (3) menolak childfree karena bertentangan dengan tujuan pernikahan dalam Islam. Secara pribadi, seluruh informan menyatakan tidak akan memilih childfree apabila menikah, namun mereka menghormati keputusan pasangan yang memilih childfree karena hal tersebut merupakan hak setiap pasangan dalam berumah tangga. Adapun faktor utama yang menurut mahasiswa melatarbelakangi pilihan childfree adalah kondisi ekonomi, kesiapan mental, kesehatan, dan pengaruh media sosial. Ditinjau dari perspektif maqashid syariah, mayoritas mahasiswa mengaitkan fenomena childfree dengan konsep hifz al-nasl (menjaga keturunan) dan hifz al-din (menjaga agama). Mahasiswa menilai bahwa childfree yang dilakukan secara permanen tanpa alasan yang dibenarkan bertentangan dengan tujuan syariat. Namun, sebagian mahasiswa juga memahami maqashid syariah secara kontekstual, yaitu childfree dapat ditoleransi apabila dilandasi alasan yang sah seperti kondisi kesehatan, trauma psikologis, atau kemaslahatan keluarga, sejalan dengan prinsip hifz al-nafs (menjaga jiwa) dan hifz al-aql (menjaga akal). Dengan demikian, penilaian terhadap childfree dalam perspektif maqashid syariah bersifat kontekstual dan tidak mutlak, bergantung pada alasan serta dampak yang ditimbulkan terhadap kemaslahatan individu, keluarga, dan keberlangsungan generasi.

Item Type: Skripsi
Subjects: Hukum > Hukum Keluarga Islam
Divisions: Fakultas Syariah Dan Ilmu Hukum > Hukum Keluarga Islam
Depositing User: 1860102221084 DYAH AYU PRAMESTIE
Date Deposited: 05 Oct 2026 06:36
Last Modified: 05 Oct 2026 06:36
URI: https://repo.uinsatu.ac.id/id/eprint/72874

Actions (login required)

View Item View Item