KATA NAFSU PERSPEKTIF K.H. MIṢBAH MUṢTOFA (Studi Atas Tafsir Al-Iklīl Fī Ma’ānī Al-Tanzīl)

ERINA RIZKA HARTATI, 17301163001 (2019) KATA NAFSU PERSPEKTIF K.H. MIṢBAH MUṢTOFA (Studi Atas Tafsir Al-Iklīl Fī Ma’ānī Al-Tanzīl). [ Skripsi ]

[img]
Preview
Text
Cover.pdf

Download (948kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Abstrak.pdf

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text
Daftar Isi.pdf

Download (542kB) | Preview
[img]
Preview
Text
Bab I.pdf

Download (504kB) | Preview
[img] Text
Bab II.pdf

Download (1MB)
[img] Text
Bab III.pdf

Download (865kB)
[img] Text
Bab IV.pdf

Download (925kB)
[img] Text
Bab V.pdf

Download (371kB)
[img] Text
Daftar Pustaka.pdf

Download (640kB)

Abstract

ABSTRAK Skripsi dengan judul “Kata Nafsu Perspektif K.H. Miṣbah Muṣtofa (Studi Atas Tafsir Al-Iklīl Fī Ma’ānī Al-Tanzīl)” ini ditulis oleh Erina Rizka Hartati, NIM. 17301163001, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri Tulungagung. Pembimbing: Muhammad Ridho, M.A. Kata Kunci: Tingkatan, nafsu, al-Iklīl Seiring dengan modernitas zaman, banyak orang yang menginginkan untuk eksis dipandang satu sama lain, namun tidak mengenal jati dirinya sendiri. Pola pikir dan pola hidup sedemikian rupa berakibat pada tujuan yang ingin dicapai masing-masing individu hanya berorientasi pada kepopuleran semata. Sehingga terkadang, untuk mencapai tujuannya tersebut harus melakukan berbagai tindakan yang secara tidak sadar dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Masalah yang dimaksud adalah krisis kejujuran dan akhlak seperti tindak korupsi, mencuri, membunuh orang lain untuk menutupi aib diri sendiri, dan lain sebagainya. Padahal yang paling mempengaruhi seseorang untuk berbuat sesuatu adalah dirinya sendiri. Seperti yang telah diketahui secara umum, bahwa di dalam diri manusia terdapat jiwa/al-nafs. Sang jiwa tersebutlah yang menentukan arah perilaku seseorang. Sehingga pembahasan ini menjadi menarik dikaji guna mengenali siapa sebenarnya sang jiwa tersebut dan mengarahkan potensinya pada kepositifan. Melalui analisis hermeneutika Fazlur Rahman, bermaksud untuk mencari solusi dari permasalahan era milenial dengan kembali kepada analisis teks al-Qur`an, yaitu memfokuskan kajian pada Surat Yūsuf ayat 53 dan al-Fajr ayat 27. Dimulai dengan analisa sosial kemudian menyelidiki asbāb al-nuzul kedua surat tersebut. Lalu digeneralisasikan nilai moral yang terkandung pada peristiwa turunnya maupun ayatnya secara esensial. Sehingga kemudian nilai tersebut dapat dibawa dan diterapkan kepada realitas kemasyarakatan yang sedang berkembang. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana wawasan al-nafs menurut al-Qur`an? (2) Bagaimana tingkatan al-nafs (nafsu) perspektif K.H. Miṣbah Muṣtofa di dalam Tafsir al-Iklīl fī Ma’anī al-Tanzīl?. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengertian, tingkatan, serta cara mengelola al-nafs menurut al-Qur`an. Dan juga secara spesifik untuk mengetahui lebih dalam apa saja tingkatan nafsu perspektif K.H. Miṣbah Muṣtofa di dalam Tafsir al-Iklīl. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan hermeneutika. Penulis merujuk pada teori double movement milik Fazlur Rahman, yang memuat gerakan ganda. Gerakan yang pertama berangkat dari situasi sekarang menuju ke situasi ketika al-Qur`an diturunkan dengan merujuk pada asbāb al-nuzul ayat/surat. Kemudian gerakan kedua adalah ketika al-Qur`an diturunkan menuju situasi masa kini. Selanjutnya hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, 1) Al-nafs menurut al-Qur`an secara umum memiliki tiga pengertian yaitu jiwa, nafsu atau keinginan diri dan berbentuk mufrad serta jamak (dua jenis: nufus dan anfus). Tingkatannya ada tiga yaitu al-nafs al-ammārah (QS. Yūsuf ayat 53), al-nafs al-lawwāmah (QS. Qiyamah ayat 2), dan al-nafs al-muṭmainnah (QS. al-Fajr ayat 27). Kemudian merujuk pada Asy-Syams ayat 9 tentang cara mengelola al-nafs dilakukan dengan proses tazkiyah al-nafs yang dibagi menjadi tiga tahap, yakni takhalli, taḥalli, dan tajalli. 2) Tingkatan nafsu menurut K.H. Miṣbah Muṣtofa yang dijelaskan di dalam Surat Yūsuf ayat 53 ada lima tingkat, yaitu nafsu ammārah, nafsu lawwāmah, nafsu mulhamah, nafsu muṭmainnah, dan nafsu roḍiyyah marḍiyyah. Sedangkan pada Surat al-Fajr ayat 25-30, ia menjelaskan dengan mengutip pendapat ulama tasawuf bahwa nafsu manusia terdiri dari enam tingkat yaitu nafsu ammārah, nafsu lawwāmah, nafsu muṭmainnah, nafsu mulhamah, nafsu marḍiyyah, dan nafsu ṣolihah.

Item Type: Skripsi
Subjects: Agama
Divisions: Fakultas Ushuluddin, Adab Dan Dakwah > Ilmu Al-Quran Dan Tafsir
Depositing User: 17301163001 ERINA RIZKA HARTATI
Date Deposited: 31 Dec 2019 03:48
Last Modified: 31 Dec 2019 03:48
URI: http://repo.uinsatu.ac.id/id/eprint/14168

Actions (login required)

View Item View Item