PENGEMBALIAN UANG PANAI DALAM PERCERAIAN AKIBAT PENOLAKAN HUBUNGAN SUAMI ISTRI: TINJAUAN FIQIH MUNAKAHAT DAN HUKUM ADAT (Studi Kasus Di Kelurahan Baru Ilir Kecamatan Balikpapan Barat)

NUR AVIYAH, 126102213295 and NURIL FARIDA MARATUS, 199003072019032012 (2025) PENGEMBALIAN UANG PANAI DALAM PERCERAIAN AKIBAT PENOLAKAN HUBUNGAN SUAMI ISTRI: TINJAUAN FIQIH MUNAKAHAT DAN HUKUM ADAT (Studi Kasus Di Kelurahan Baru Ilir Kecamatan Balikpapan Barat). [ Skripsi ]

[img] Text
COVER.pdf

Download (1MB)
[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (463kB)
[img] Text
DAFTAR ISI.pdf

Download (178kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (631kB)
[img] Text
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (838kB)
[img] Text
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (341kB)
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (521kB)
[img] Text
BAB V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (609kB)
[img] Text
BAB VI.pdf
Restricted to Registered users only

Download (261kB)
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (430kB)
[img] Text
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Tradisi uang panai secara adat dipahami sebagai simbol penghormatan, kesungguhan, dan pengikat hubungan sosial antarkeluarga. Namun ketika penolakan kewajiban batin muncul setelah akad nikah, timbul pertanyaan mengenai kedudukan hukum uang panai: apakah dapat diminta kembali atau telah melekat pada hak keluarga perempuan. Penelitian ini melatarbelakangi dari fenomena tuntutan pengembalian uang panai pada kasus perceraian yang terjadi setelah penolakan hubungan suami istri oleh pihak istri di Kelurahan Baru Ilir. Terdapat tiga fokus penelitian yaitu: 1) Ketentuan Adat Pemberian Uang Panai dalam Pernikahan Suku Bugis di Kelurahan Baru Ilir; 2) Dampak Penolakan Hubungan Suami Istri dalam Pengembalian Uang Panai di Kelurahan Baru Ilir; 3) Kedudukan Hukum terhadap Pengembalian Uang Panai Perspektif Fiqih Munakahat dan Hukum Adat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis empiris yaitu suatu bentuk penelitian hukum yang berorientasi pada realitas sosial untuk mengkaji kehidupan masyarakat, khususnya terkait dengan kasus pengembalian uang panai sebab penolakan hubungan suami istri ditinjau dari fiqih munakahat serta hukum adat di Kecamatan Baru Ilir. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi terhadap keluarga, tokoh adat, serta pihak yang pernah mengalami kasus serupa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Uang panai dipahami sebagai tradisi sosial masyarakat Bugis yang berfungsi sebagai simbol siri’ na pacce dan tanggung jawab calon suami, bukan bagian dari mahar, rukun, ataupun syarat sah nikah dalam Islam. Secara fiqih, ia diposisikan sebagai ‘urf yang dibolehkan selama tidak menimbulkan mudarat. 2) Penolakan kewajiban batin oleh istri dipandang sebagai bentuk nusyuz dan menjadi penyebab utama tuntutan pengembalian uang panai di Kelurahan Baru Ilir. Dalam adat, hal tersebut dianggap menciderai siri’ suami sehingga pengembalian uang panai dipahami sebagai pemulihan kehormatan keluarga. 3) Tidak terdapat landasan hukum fiqih yang mengatur kewajiban pengembalian uang panai, kecuali apabila telah ada kesepakatan sebelumnya melalui suatu akad tambahan antara kedua belah pihak. Sebaliknya, hukum adat Bugis membuka ruang pengembalian uang panai jika perceraian dipicu oleh kesalahan pihak istri. Keduanya bertemu pada prinsip keadilan dan kemaslahatan.

Item Type: Skripsi
Subjects: Hukum > Hukum Keluarga Islam
Peradilan Islam > Perceraian
Peradilan Islam > Perkawinan
Divisions: Fakultas Syariah Dan Ilmu Hukum > Hukum Keluarga Islam
Depositing User: 126102213295 NUR AVIYAH
Date Deposited: 16 Sep 2026 07:15
Last Modified: 16 Sep 2026 07:15
URI: http://repo.uinsatu.ac.id/id/eprint/69147

Actions (login required)

View Item View Item