ASMIK NASIKAH, 12502185006 and MAFTUKHIN, 196707172000031002 and AKHMAD RIZQON KHAMAMI, 197408292008011006 (2025) DIALEKTIKA NILAI FIKIH DAN NILAI TASAWUF DALAM AJARAN WAHIDIYAH. [ Disertasi ]
|
Text
COVER.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
ABSTRAK.pdf Download (453kB) |
|
|
Text
DAFTAR ISI.pdf Download (248kB) |
|
|
Text
BAB I.pdf Download (496kB) |
|
|
Text
BAB II.pdf Restricted to Registered users only Download (731kB) |
|
|
Text
BAB III.pdf Restricted to Registered users only Download (976kB) |
|
|
Text
BAB IV.pdf Restricted to Registered users only Download (625kB) |
|
|
Text
BAB V.pdf Restricted to Registered users only Download (848kB) |
|
|
Text
BAB VI.pdf Restricted to Registered users only Download (247kB) |
|
|
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (402kB) |
|
|
Text
LAMPIRAN.pdf Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
Disertasi dengan judul “Dialektika Nilai Fikih dan Nilai Tasawuf dalam Ajaran Wahidiyah” ini ditulis oleh Asmik Nasikah dengan Promotor Prof. Dr. H. Maftukhin, M.Ag. dan Prof. Dr. H. A. Rizkon Khamami, M.A Kata Kunci: Dialektika, Nilai Fikih, Nilai Tasawuf, Ajaran Wahidiyah Disertasi ini dilatarbelakangi oleh asumsi adanya nilai-nilai fikih yang terkandung dalam Ajaran Wahidiyah, sebuah ajaran tasawuf yang diajarkan oleh KH. Abdoel Majid Ma’roef kepada para pengamal Shalawat Wahidiyah. Asumsi ini dapat ditemukan dalam definisi Ajaran Wahidiyah yang tidak hanya menekankan aspek peningkatan keimanan dan realisasi ihsan, tetapi juga menegaskan pentingnya ketaatan terhadap syariat serta pelaksanaan ajaran Islam secara utuh. Berdasarkan hal ini, peneliti berasumsi bahwa ada suatu relasi antara nilai nilai tasawuf dalam ajaran wahidiyah dengan nilai nilai fikih yg terkandung di dalamnya. Hal ini mendorong peneliti untuk meneliti lebih lanjut nilai nilai fikih dan nilai nilai tasawuf Ajaran Wahidiyah berikut dialektika keduanya. Pemilihan tema dialektika nilai fikih dan nilai tasawuf dalam Ajaran Wahidiyah sebagai tema penelitian karena beberapa hal. Pertama, tema ini memiliki berbagai dimensi, yaitu dimensi religius, spiritual, dan filosofis. Kedua, penelitian ini memiliki kontribusi terhadap pengembangan penerapan ajaran tasawuf Wahidiyah oleh para Pengamal Shalawat wahidiyah. Pemilihan Ajaran Wahidiyah dalam penelitian ini didasarkan pada tiga hal. Pertama, karakteristik Ajaran Wahidiyah yang unik dibandingkan dengan tradisi tasawuf lainnya. Jika tasawuf pada umumnya lebih menitikberatkan seperti aspek suluk dan maqamat, maka Wahidiyah mengemas bimbingannya dalam satu sistem ajaran yang praktis dan sistematis, dimulai dari tahapan lillah-billah hingga taqdimul aham tsumma al-anfa’. Kedua, Struktur tahapan dalam Ajaran Wahidiyah ini memiliki kemiripan dengan tahapan metode ijtihad dalam hukum Islam. Ketiga, Ajaran Wahidiyah memperkenalkan konsep lilghaus-bilghaus, suatu terminologi yang belum pernah ditemukan secara eksplisit dalam referensi tasawuf klasik. Hal ini menjadi salah satu ciri khas Ajaran Wahidiyah, yang membedakannya dari tradisi tasawuf lainnya dan menjadikannya sebagai objek kajian yang menarik dalam studi islam interdisipliner. Rumusan masalah dalam disertasi ini adalah: 1) Bagaimana nilai fikih dan nilai tasawuf dalam ajaran Wahidiyah?, 2) Bagaimana hubungan antara nilai fikih dan nilai tasawuf dalam ajaran Wahidiyah?, dan 3) Bagaimana ajaran Wahidiyah menyatukan dimensi lahiriah (fikih) dan batiniah (tasawuf) dalam membentuk pandangan hidup yang holistik? Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) yang diperkuat dengan wawancara untuk menganalisis ajaran Wahidiyah melalui prespektif tasawuf dan fikih. Data diperoleh dari sumber primer berupa buku-buku Wahidiyah dan sumber sekunder berupa pernyataan para tokohnya. Teknik pengumpulan data mencakup studi pustaka dan wawancara mendalam dengan informan yang dipilih secara purposif. Analisis data dilakukan dengan metode analisis konten melalui identifikasi tema, pengkodean, dan sintesis temuan. Keabsahan data dijaga dengan validasi sumber, triangulasi metode, dan analisis sistematis untuk menghasilkan pemahaman yang komprehensif mengenai nilai-nilai tasawuf dan fikih dalam ajaran Wahidiyah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai fikih dalam ajaran Wahidiyah sebagai berikut: ajaran lillah menekankan amal yang sesuai syariat, lirrasul mengajarkan kepatuhan pada sunnah Rasulullah, lilghaus menekankan bimbingan ulama dalam praktik fikih, yu’ti kulla zi haqqin haqqah mengajarkan pemenuhan hak dan kewajiban, serta taqdim al-aham fa al-aham tsumma al-anfa’ fa al-anfa’ memberikan panduan prioritas berdasarkan kepentingan dan manfaat. Sedangkan nilai tasawuf dalam ajaran Wahidiyah sebagai berikut: lillah menekankan keikhlasan hati dan niat murni untuk Allah, billah mengajarkan penyerahan total kepada Allah, lirrasul mengajarkan ketaatan dan niat tulus mengikuti Rasulullah SAW, birrasul mengajarkan kesadaran bahwa segala kebaikan berasal dari Rasulullah, lilghaus mengajarkan mengikuti teladan orang dekat dengan Allah, bilghaus mengajarkan penghormatan terhadap al-Ghaus sebagai pemimpin spiritual, yu’ti kulla zi haqqin haqqah menekankan mendahulukan kewajiban sebelum hak, dan taqdim al-aham fa al-aham tsumma al-anfa’ fa al-anfa’ mengajarkan penilaian prioritas dalam tindakan berdasarkan kedekatan dengan Allah dan dampaknya pada umat. Hubungan antara nilai fikih dan nilai tasawuf dalam ajaran Wahidiyah terletak pada integrasi harmoni antara aspek lahiriah (fikih) dan batiniah (tasawuf), yang bersama-sama membentuk panduan komprehensif dalam menjalani kehidupan Islami. Nilai fikih menekankan ketaatan pada syariat, sunnah Rasulullah, dan prinsip keadilan serta prioritas dalam tindakan, yang berfungsi sebagai kerangka hukum dan etika untuk beramal. Sementara itu, nilai tasawuf melengkapi dimensi tersebut dengan menanamkan keikhlasan, penyerahan hati kepada Allah, dan kesadaran spiritual untuk mendekatkan diri kepada-Nya Ajaran Wahidiyah yang notabene berupa ajaran ketasawufan dapat diperluas penerapannya pada aspek penetapan normatif-fikih. Penulis merumuskannya dalam sebuah tawaran metodologi integrasi nilai fikih dan nilai tasawuf dalam membentuk pandangan hidup yang holistik, yang disebut dengan Metodologi Fikih Sufistik Wahidiyah. Metodologi ini terdiri dari lima tahapan. Tahap pertama, lillah-billah: ijtihad dilakukan dengan mencari ketentuan dalam al-Quran disertai niat lillah dan kesadaran billah. Tahap kedua, lirrasul-birrasul: ijtihad diterapkan dengan mencari ketentuan dalam sunnah-sunnah Nabi saw disertai niat lirrasul dan kesadaran birrasul. Tahap ketiga, lilghaus-bilghaus: ijtihad diterapkan dengan meninjau pendapat para ulama disertai niat lilghaus dan kesadaran bilghaus. Tahap keempat, yu’ti kulla zi haqqin haqqah: ijtihad dilakukan dengan analisis Integratif dari berbagai bidang yang terkait, untuk mencapai keadilan dan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Tahap kelima, taqdim al-aham fa al-aham tsumma al-anfa’ fa a-anfa’: ijtihad dilakukan dengan menentukan skala prioritas (keputusan paling maslahah) antara dua atau lebih persoalan dengan mendahulukan yang lebih penting (al-aham) dan yang lebih bermanfaat (al-anfa’).
| Item Type: | Disertasi |
|---|---|
| Subjects: | Pendidikan Islam |
| Divisions: | Pascasarjana > Disertasi > Studi Islam Interdisipliner |
| Depositing User: | 12502185006 ASMIK NASIKAH |
| Date Deposited: | 21 Jul 2026 08:21 |
| Last Modified: | 21 Jul 2026 08:21 |
| URI: | http://repo.uinsatu.ac.id/id/eprint/69820 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
