DIALEKTIKA AGAMA DAN BUDAYA DALAM TRADISI KARIYA SUKU MUNA SULAWESI TENGGARA

HASTUTI HARDIANA PUTRI, 128511203003 (2023) DIALEKTIKA AGAMA DAN BUDAYA DALAM TRADISI KARIYA SUKU MUNA SULAWESI TENGGARA. [ Thesis ]

[img] Text
COVER.pdf

Download (501kB)
[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (384kB)
[img] Text
DAFTAR ISI.pdf

Download (222kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (362kB)
[img] Text
BAB II.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (598kB)
[img] Text
BAB III.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (298kB)
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (561kB)
[img] Text
BAB V.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (506kB)
[img] Text
BAB VI.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (270kB)
[img]
Preview
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (285kB) | Preview

Abstract

ABSTRAK Tesis dengan judul “Dialektika Agama dan Budaya dalam Tradisi Kariya Suku Muna Sulawesi Tenggara” ini ditulis oleh Hastuti Hardiana Putri dengan Promotor Prof. Dr. H. Mujamil Qomar, M.Ag. dan Dr. H. Ahmad Zainal Abidin, M.A. Kata Kunci: Dialektika, Agama, Budaya, Kariya Tradisi Kariya (pingitan) adalah sebuah prosesi adat yang berasal dari Kabupaten Muna dimana dalam bahasa Indonesia Kariya diartikan sebagai pingitan (dikurung). Setiap gadis yang menjalani tradisi ini mengenakan pakaian adat Muna. Untuk menjalani prosesi adat tersebut, mereka berjalan diatas kain putih menuju ke suatu tempat. Sementara itu, Kariya (pingitan) sendiri berarti pembersihan yang berasal dari kata “Kari” (sikat atau pembersih). Tradisi Kariya (pingitan) ini memiliki nilai filosofi yakni proses pembersihan diri seorang perempuan menjelang dewasa atau masa peralihan sebelum menikah. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masyarakat yang masih meyakini konsekuensi dari tradisi Kariya (pingitan) yang tidak dilaksanakan. Kariya (pingitan) merupakan salah satu tradisi turun-temurun yang masih bertahan hingga saat ini di masyarakat suku Muna khususnya di Desa Kontunaga. Tradisi ini dianggap juga sebagai tanggungjawab orang tua terhadap anak perempuannya dan diyakini bahwa apabila orang tua tidak melaksanakan tradisi ini pada anaknya maka akan berdampak pada masa depannya, misalnya susahnya untuk mendapatkan jodoh, luka-luka, dan meninggal dunia. Pertanyaan penelitian dalam tesis ini adalah: (1) Mengapa masyarakat Desa Kontunaga melaksanakan tradisi Kariya (pingitan)?; (2) Bagaimana bentuk tradisi Kariya (pingitan)?; (3) Bagaimana dialektika agama dan budaya dalam proses pelaksanaan tradisi Kariya (pingitan)?; (4) Bagaimana implikasi dialektika agama dan budaya dalam tradisi Kariya (pingitan)?. Metode penelitian tesis ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interaksionisme simbolik. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis yang digunakan dalam tesis ini menggunakan analisis domain, taksonomi, komponensial, dan tema kultural. Untuk pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara uji kredibilitas, uji transferabilitas, uji dependabilitas, uji konfirmabilitas atau objektifitas (triangulasi). Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa: (1) bahwa keyakinan terhadap tradisi Kariya (pingitan) dalam kehidupan masyarakat Desa Kontunaga berlandaskan pada warisan nenek moyang terdahulu dengan tujuan untukmembekali anak perempuan nilai-nilai etika, moral, dan spiritual berkaitan dengan statusnya sebagai anak, calon ibu, istri, maupun posisinya sebagai bagian dari masyarakat yang telah memasuki dewasa. (2) Kariya (pingitan) adalah sebuah ritual yang dimaksudkan untuk mengajarkan kepada seorang anak gadis tentang persiapan berumah tangga, dengan memingit selama 4 hari 4 malam. (3) dialektika agama dan budaya dalam proses pelaksanaan tradisi Kariya (pingitan) merupakan upaya masyarakat dalam menjaga dan melestarikan tradisi ini melalui 8 tahapan. Adapun unsur-unsur agama yang terdapat dalam tradisi Kariya (pingitan) ini adalah pembacaan doa, haroa (baca-baca), barasanji, nasehat nasehat tentang berumah tangga, dan moral. Sedangkan unsur-unsur budaya yang terdapat dalam tradisi Kariya (pingitan) adalah makan bersama, mandi di pantai atau sungai, dan pertunjukan tradisional dengan bermain silat, serta membuang makanan seperti lapa-lapa, telur, dan cucur ke laut. (4) implikasi dialektika agama dan budaya ditunjukkan dengan adanya keterkaitan antara agama dan budaya yang saling melengkapi dan saling berhubungan langsung terhadap tingkahlaku anggota masyarakat untuk tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan aturan agama yang berlaku. Dengan adanya pemahaman agama Islam secara menyeluruh maka masyarakat akan lebih memahami makna-makna yang ada di dalamnya dan akan menimbulkan kesadaran untuk memberikan modernisasi tradisi ke arah yang Islami tanpa menghilangkan kearifan budaya lokal. Modernisasi tradisi secara Islami yang dimaksud adalah tidak memberikan batasan terhadap aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat sehingga dalam tradisi ini terjadi akulturasi budaya dimana Islam melembaga menjadi kekuatan sosial terhadap budaya yang digambarkan melalui tradisi Kariya (pingitan) sebagai wujud kesempurnaan dalam pensucian diri seorang perempuan sekaligus sebagai gambaran untuk menegaskan citra masyarakat Desa Kontunaga yang menganut agama Islam dan tetap memengang teguh adat yang diwariskan leluhur secara turun-temurun.

Item Type: Thesis (UNSPECIFIED)
Subjects: Kebudayaan Islam
Divisions: Pascasarjana > Thesis > Studi Islam
Depositing User: M.Ag 128511203003 Hastuti Hardiana Putri
Date Deposited: 02 Feb 2023 04:26
Last Modified: 02 Feb 2023 04:26
URI: http://repo.uinsatu.ac.id/id/eprint/32582

Actions (login required)

View Item View Item