KHUSYUK DALAM DZIKIR PERSPEKTIF MAJELIS TA’LIM (Studi Kasus Di Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid Di Dusun Ngibak, Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung)

MUHAMMAD HASAN NASHRUDDIN, 1733143051 (2018) KHUSYUK DALAM DZIKIR PERSPEKTIF MAJELIS TA’LIM (Studi Kasus Di Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid Di Dusun Ngibak, Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung). [ Skripsi ]

[img]
Preview
Text
COVER.pdf

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text
ABSTRAK.pdf

Download (446kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR ISI.pdf

Download (136kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (278kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (499kB) | Preview
[img] Text
BAB III.pdf

Download (216kB)
[img]
Preview
Text
BAB IV.pdf

Download (341kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB V.pdf

Download (246kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB VI.pdf

Download (132kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (180kB) | Preview

Abstract

ABSTRAK Skripsi yang berjudul “Khusyuk Dalam Dzikir Prespektif Majelis Ta’lim (Studi Kasus Di Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid Di Dusun Ngibak, Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung) ini ditulis oleh Muhammad Hasan Nashruddin, NIM. 1733143051, dosen pembimbing Dr. H. Teguh, M.Ag Kata Kunci: Khusyuk, Dzikir, Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rasa keingintahuan mengenai fenomena dzikir khusus yang diyakini mampu menyadari akan kehadiran Tuhan dalam setiap hal. Pemahaman mengenai iman, islam dan ihsan yang menjadi ruang lingkup pembahsan pada penelitian ini. Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid beranggapan bahwa ketika mereka sudah mempunyai ilmu tentang berdzikir dan sudah melalui proses Sirian, mereka bukan hanya mampu melakukan dzikir secara terus menerus melainkan mereka tidak mampu menghentikan dzikir mereka. Dzikir lailahaillallah menjadi amalan khusus yang diamalkan oleh Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid. Perasaan khusyuk menjadi kunci keberhasilan seseorang dalam berdzikir kepada Allah. Khusyuk diibaratkan menjadi roh setiap ibadah. Melakukan semua kegiatan yang diniatkan untuk beribadah menjadi penekanan ajaran yang disampaikan. Adapun pertanyaan dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana makna dan hakikat khusyuk menurut Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid, 2) Apa saja dan bagaimana amalan yang dilakukan Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid dalam mencapai khusyuk, 3) Bagaimana penerepan khusyuk dalam berdzikir pada Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan, 1) makna dan hakikat khusyuk menurut Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid, 2) amalan yang dilakukan Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid dalam mencapai khusyuk, 3) penerepan khusyuk dalam berdzikir pada Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid. Dalam penyusunan penelitian ini, menggunakan jenis penelitian kualitatif, dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara mendalam, observasi partisipan dan dokumentasi. Sedangkan metode analisis yang digunakan adalah metode StevickColaizzi-Keen dari Moustakas. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa: 1) Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid dalam mendefinisikan hakikat khusyuk adalah suatu sikap yang dilakukan dalam mengerjakan semua bentuk kegiatan yang didasarkan pada perasaan tunduk, takut, harap, cemas, dan cinta yang dibuktikan dengan tunduknya pandangan serta tenangnya fisik bersamaan dengan sadarnya bahwa Tuhan bisa hadir pada diri kita. Mampu menghilangkan sikap ke-akuan yang mengarah pada keduniawian. Khusyuk harus berawal dari pemahaman yang khusus terhadap setiap ibadah, bukan dengan hati maupun fisiknya terlebih dahulu, seperti yang dijelaskan ulama’ terdahulu. 2) Mengenai amalan yang dilakukan oleh Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid dalam berdzikir, mereka lebih menekankan pada menghadirkan Tuhan dalam hati, dari pada berfokus dengan jumlah dzikir yang dilakukan, namun mempunyai penekanan tertentu dalam lafadz lailahaillallah. Mereka tidak mempunyai patokan tertentu dalam melakukannya, mereka beranggapan bahwa esensi dari dzikir bukanlah banyak xvi atau sedikitnya dzikir yang dilakukan, akan tetapi mampu atau tidaknya kita menghadirkan Tuhan dalam hati kita, mengetahui dengan siapa kita menyembah, serta melantunkan dzikir tersebut sampai mereka sendiri tidak mampu menghentikan apa yang mereka sebut dzikir tanpa aksara dan tanpa suara. 3) Mereka lebih memaknai setiap kegiatan itu sebagai suatu ibadah dengan memberi penekanan terhadap ketauhidan. Kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam setiap lini kehidupan manusia menjadi sangat penting untuk kemudian menjadikan mereka lebih berhati-hati, sungguh-sungguh, penuh ketundukan ataupun tidak ceroboh dalam melakukan apapun, baik dalam pandangan agama Islam maupun pandangan masyarakan secara luas. Melakukan kebaikan dan menebarkan kedamaian menjadi penekanan yang begitu penting dalam penerapan ajaran Majelis Ta’lim Ilmu Tauhid

Item Type: Skripsi
Subjects: Psikologi
Divisions: Fakultas Ushuluddin, Adab Dan Dakwah > Tasawuf Psikoterapi
Depositing User: 1733143051 MUHAMMAD HASAN NASHRUDDIN
Date Deposited: 26 Dec 2018 04:09
Last Modified: 26 Dec 2018 04:09
URI: http://repo.uinsatu.ac.id/id/eprint/9928

Actions (login required)

View Item View Item