DAKWAH MEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Analisis Komparatif Pemanfaatan Konten Positif di Media Sosial Menurut Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Al-Misbah)

ANGGITA ANJELINA RAHMADANI, 126301212080 and ACHRIS ACHSANUDTAQWIN, 2120038606 (2025) DAKWAH MEDIA SOSIAL DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN (Analisis Komparatif Pemanfaatan Konten Positif di Media Sosial Menurut Tafsir Al-Azhar dan Tafsir Al-Misbah). [ Skripsi ]

[img] Text
COVER.pdf

Download (1MB)
[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (260kB)
[img] Text
DAFTAR ISI.pdf

Download (236kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (261kB)
[img] Text
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (430kB)
[img] Text
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (357kB)
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (282kB)
[img] Text
BAB V.pdf
Restricted to Registered users only

Download (162kB)
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (239kB)
[img] Text
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (348kB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep dakwah digital dalam perspektif Al-Qur’an, dengan kajian utama pada Surah An-Nahl ayat 125-127, serta membandingkan penafsiran dua mufassir terkemuka Indonesia, yaitu Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar dan M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah. Di era perkembangan teknologi, dakwah digital menjadi sarana penting dalam menyebarkan ajaran Islam, di mana media sosial dimanfaatkan sebagai wadah komunikasi, berbagi informasi, dan menyampaikan pesan keagamaan secara luas dan cepat. Dakwah kini tidak hanya dilakukan secara konvensional, tetapi juga merambah ke platform digital seperti Instagram, YouTube, dan TikTok.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis komparatif terhadap kedua karya tafsir tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua mufassir sepakat tentang pentingnya metode dakwah yang mengutamakan hikmah (kebijaksanaan), mau’izhah hasanah (nasihat yang baik), dan mujadalah billati hiya ahsan (berdialog dengan cara terbaik). Keduanya juga menegaskan perlunya sikap sabar dan kemampuan memahami karakter audiens agar pesan dakwah tersampaikan secara efektif.Perbedaan keduanya terletak pada pendekatan penafsiran. Buya Hamka cenderung mengedepankan aspek kontekstual, historis, dan budaya lokal, dengan gaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Sebaliknya, M. Quraish Shihab menekankan kajian kebahasaan, analisis makna, dan pendekatan rasional, dengan penjelasan yang relevan terhadap persoalan sosial di era modern.Penelitian ini menyimpulkan bahwa dakwah digital harus tetap berpegang pada prinsip dakwah Qur’ani mengedepankan kebijaksanaan, keteladanan, dialog yang santun, dan disampaikan dengan cara yang bijak dan penuh kesabaran. Dakwah digital tidak hanya soal isi pesan, tetapi juga cara menyampaikannya agar dapat diterima oleh masyarakat luas tanpa menimbulkan konflik di tengah keragaman. Dengan merujuk pada nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan dikuatkan oleh kedua tafsir tersebut, dakwah digital diharapkan menjadi sarana penyebaran Islam yang moderat dan membangun. Kata Kunci: Dakwah Digital, Media Sosial, Surah An-Nahl, Tafsir Al-Azhar, Tafsir Al-Misbah

Item Type: Skripsi
Subjects: Agama > Tafsir Quran
Divisions: Fakultas Ushuluddin, Adab Dan Dakwah > Ilmu Al-Quran Dan Tafsir
Depositing User: 126301212080 ANGGITA ANJELINA RAHMADANI
Date Deposited: 09 Jan 2026 04:50
Last Modified: 09 Jan 2026 04:50
URI: http://repo.uinsatu.ac.id/id/eprint/65762

Actions (login required)

View Item View Item