AURA FATIMAH AZZAHRO, 126302211002 and AKHOL FIRDAUS, 2027047804 (2025) ANALISIS PERAN FKUB DALAM MERAWAT KERUKUNAN BERAGAMA MELALUI PENYELESAIAN KONFLIK RUMAH IBADAH DALAM PERSPEKTIF MULTIKULTURALISME WILL KYMLICKA. [ Skripsi ]
|
Text
COVER.pdf Download (1MB) |
|
|
Text
ABSTRAK.pdf Download (661kB) |
|
|
Text
DAFTAR ISI.pdf Download (354kB) |
|
|
Text
BAB I.pdf Download (645kB) |
|
|
Text
BAB II.pdf Restricted to Registered users only Download (472kB) |
|
|
Text
BAB III.pdf Restricted to Registered users only Download (627kB) |
|
|
Text
BAB IV.pdf Restricted to Registered users only Download (173kB) |
|
|
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (409kB) |
|
|
Text
LAMPIRAN.pdf Restricted to Repository staff only Download (1MB) |
Abstract
Skripsi dengan judul “Peran FKUB Dalam Merawat Kerukunan Umat beragama Melalui Penyelesaian Konflik Rumah Ibadah Dalam Perspektif Multikulturalisme Will Kymlicka” ini ditulis oleh Aura Fatimah Azzahro, NIM 126302211002, dengan pembimbing Dr. Akhol Firdaus, M.Pd. Kata Kunci: FKUB, rumah ibadah, multikulturalisme, Will Kymlicka, kelompok minoritas Konflik pembangunan rumah ibadah tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari tarik-ulur antara suara mayoritas dan kelompok minoritas yang sering kali tidak punya ruang untuk bersuara. Dalam situasi seperti ini, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) hadir dengan tugas menjaga hubungan antarumat beragama tetap harmonis. Namun menjadi penengah bukan berarti selalu berada di posisi yang netral atau adil. Penelitian ini melihat bagaimana FKUB Tulungagung menangani kasus penyendatan pembangunan gereja di Desa Moyoketen, dengan pendekatan yang cenderung lebih menekankan aspek administratif daripada substansi keadilan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi lapangan dan pustaka, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teori multikulturalisme Will Kymlicka digunakan untuk memahami dinamika tersebut. Bagi Kymlicka, keadilan tidak cukup hanya berdasarkan perlakuan yang sama, tetapi harus memberi pengakuan dan perlindungan khusus pada kelompok rentan. FKUB terlihat lebih fokus memenuhi persyaratan formal seperti jumlah tanda tangan, sementara ruang dialog terhadap aspirasi kelompok minoritas kurang mendapat perhatian. Penelitian ini memberi ruang refleksi bahwa membangun kerukunan tidak cukup dilakukan dibalik meja rapat dan aturan yang kaku. Diperlukan keberanian untuk mendengar suara kecil, dan berpihak pada mereka yang sering diabaikan. Sebab kerukunan sejati bukan sekadar absennya konflik, melainkan hadirnya rasa adil dalam relasi sosial yang sering kali tidak seimbang.
| Item Type: | Skripsi |
|---|---|
| Subjects: | Filsafat > Filsafat Islam Kebudayaan Islam |
| Divisions: | Fakultas Ushuluddin, Adab Dan Dakwah > Filsafat Agama |
| Depositing User: | 126302211002 AURA FATIMAH AZZAHRO |
| Date Deposited: | 13 Jan 2026 02:49 |
| Last Modified: | 13 Jan 2026 02:49 |
| URI: | http://repo.uinsatu.ac.id/id/eprint/65849 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
