KESENIAN JEDOR KARYO WANTAH: AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA DALAM KESENIAN TRADISIONAL DALAM PERSPEKTIF FUNGSIONALISME STRUKTURAL

ALDILA VIA ATMAZIS, 126309201017 (2024) KESENIAN JEDOR KARYO WANTAH: AKULTURASI ISLAM DAN BUDAYA DALAM KESENIAN TRADISIONAL DALAM PERSPEKTIF FUNGSIONALISME STRUKTURAL. [ Skripsi ]

[img] Text
COVER.pdf

Download (888kB)
[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (162kB)
[img] Text
DAFTAR ISI.pdf

Download (235kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (370kB)
[img] Text
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (285kB)
[img] Text
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (253kB)
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (159kB)
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (177kB)
[img] Text
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Repository staff only

Download (1MB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya perkembangan zaman yang semakin modern sehingga kesenian Jedor Karyo Wantah di Tulungagung membentuk pembaharuan serta atas permintaan masyarakat untuk menjadikan kesenian Jedor Karyo Wantah yang semula menjadi kesenian tradisional menjadi kesenian modern. Serta, penelitian ini akan dikaitkan dengan salah satu teori, yaitu teori fungsionalisme struktural yang dikemukakan oleh Emile Durkheim. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana proses akulturasi pada kesenian jedor di Desa Plandaan dalam perspektif fungsionalisme struktural? 2) Bagaimana nilai-nilai sosial keagamaan pada kesenian jedor dalam perspektif fungsionalisme struktural? Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan metode pendekatan empiris merupakan suatu penelitian ilmiah, yang bertujuan untuk memahami suatu fenomena sosial dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi secara mendalam antara peneliti dengan fenomena yang akan diteliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Kesenian jedor, yang awalnya mungkin terpengaruh dari budaya luar, diintegrasikan dan dimodifikasi agar selaras dengan norma dan nilai masyarakat Plandaan, sehingga tetap relevan dengan kebutuhan sosial dan budaya masyarakat setempat. Dalam pandangan fungsionalisme struktural, setiap elemen dalam struktur sosial memiliki peran untuk mendukung stabilitas keseluruhan sistem. Kesenian jedor, sebagai hasil akulturasi, berfungsi tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai media pengikat sosial, memperkuat identitas kolektif, dan mewadahi nilai-nilai tradisional yang telah berkembang dalam masyarakat. Proses akulturasi ini memungkinkan masyarakat Desa Plandaan untuk menerima pengaruh budaya luar tanpa kehilangan identitas budaya mereka sendiri, melainkan memperkaya warisan lokal mereka, sekaligus menjaga harmoni dan keseimbangan dalam struktur sosial Desa Plandaan. 2) Dalam perspektif fungsionalisme struktural, nilai-nilai sosial keagamaan pada kesenian jedor dipandang sebagai elemen yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan dan keteraturan sosial. Fungsionalisme struktural, yang menekankan pentingnya setiap bagian dalam suatu masyarakat untuk mendukung keseluruhan sistem, melihat kesenian jedor bukan hanya sebagai hiburan atau ekspresi budaya, melainkan sebagai media untuk mengajarkan nilai-nilai agama, norma, dan moralitas kepada masyarakat. Melalui pertunjukan jedor yang sering dilakukan dalam konteks perayaan keagamaan atau acara adat, masyarakat dapat memperdalam rasa kebersamaan dan pengabdian, serta meneruskan nilai-nilai ini kepada generasi berikutnya. Sehingga, kesenian jedor membantu masyarakat mempertahankan stabilitas dan kohesi sosial, yang esensial dalam perspektif fungsionalisme struktural. Kata Kunci: Akulturasi Islam, Budaya, Kesenian Tradisional.

Item Type: Skripsi
Subjects: Sosiologi Agama > Budaya
Sosiologi Agama
Divisions: Fakultas Ushuluddin, Adab Dan Dakwah > Sosiologi Agama
Depositing User: 126309201017 ALDILA VIA ATMAZIS
Date Deposited: 23 Apr 2026 08:31
Last Modified: 23 Apr 2026 08:31
URI: http://repo.uinsatu.ac.id/id/eprint/67314

Actions (login required)

View Item View Item